50 Pemain Manchester United yang Bersinar di Bawah Asuhan Sir Alex Ferguson

1-lowongan JP

Daily Mail

EKSKLUSIF – Sir Alex Ferguson akan kembali ke ruang istirahat Old Trafford pada Sabtu, 14 November 2015, ketika dua tim all-star yang dikapteni David Beckham dan Zinedine Zidane bertanding. Laga itu bertajuk UNICEF Match for Children.

Ini akan menjadi laga bertabur bintang. Tim Great Britain dan Irlandia yang dilatih Sir Alex akan diisi Ryan Giggs, Paul Scholes, Rio Ferdinand, dan John Terry. Mereka melawan tim Dunia XI berisi pemain tenar seperti Zidane, Luis Figo, Ronaldinho, Cafu, dan Patrick Vieira dengan Carlo Ancelotti sebagai pelatih.

Sir Alex meninggalkan United pada tahun 2013 setelah mengoleksi 26 trofi dan melampaui melampaui pencapaian Liverpool. Kini, United menjadi klub paling dihiasi di sepak bola Inggris, atau salah satu yang terbaik di dunia.

Sir Alex Ferguson was the most successful manager in Manchester United's history 

Selama melatih, Sir Alex membawa Manchester United meraih 13 gelar Premier League, 5 Piala FA, 4 Piala Liga, 2 Piala Eropa, 1 European Cup Winners’ Cup, dan 1 FIFA Club World Cup. Bila melihat lagi ke belakang, kenangan manis selama kepemimpinan Sir Alex akan penuh dengan kebangkitan, permainan fantastis, gol indah, comebacks, dan piala.

Kini, mari kita membuka sejarah lalu dan melihat 50 pemain terbaik United di bawah komando Sir Alex Ferguson. Berikut adalah nomor 50-41.

—————————————————————————–

Robin van Persie (2012-2015 – 105 game, 58 gol)

Van Persie bermain apik di salah satu dari tiga musimnya di Old Trafford di bawah Sir Alex Ferguson – dan itu musim yang berkilau. Sebanyak 26 gol yang dicetak striker Belanda tersebut memberikan trofi Premier League terakhir kepada Sir Alex sebelum pensiun. Salah satu gol spektakuler Van Persie adalah tendangan voli dari luar kotak penalti saat melawan Aston Villa. Itu memastikan United mengamankan gelar liga ke-20. Bekerja dengan Ferguson merupakan salah satu alasan utama Van Persie meninggalkan Arsenal dan dia kecewa ketika sang pelatih pensiun.

Quote:‘Keputusan saya untuk datang ke Manchester adalah sebagian karena kehadiran Ferguson, atau maaf, Sir Alex. Dan dia bilang dia akan tinggal selama tiga tahun,” -Van Persie, 2013.

memberikan trofi Premier League terakhir kepada Sir Alex sebelum pensiun.

Jim Leighton (1988-1991 – 93 games)

Pemain No 1 milik Ferguson selama tahun kemuliaan di Aberdeen, Leighton, mengikuti manajernya pindah dari Pittodrie ke Old Trafford pada tahun 1988 dengan biaya transfer sebesar £500.000. Sebuah awal yang baik, kiper Skotlandia itu melakukan 14 clean sheets di musim pertamanya.
Namun, dalam kampanye kedua pada 1989-1990, Leighton harus melihat United finis di posisi ke-13 di liga. Ketika dia kebobolan tiga gol dari Crystal Palace di final Piala FA 1990, Ferguson menggantinya dengan Les Sealey, yang sepatutnya menjadi pilihan pertama.

Jim Leighton mengikuti Sir Alex Ferguson dari Aberdeen ke Old Trafford dan bermain antara 1988 dan 1991

David May (1994-2003 – 118 game, 8 gol)

Banyak lelucon dalam momen paling terkenal saat David May dengan baju United datang tak diundang dan ikut merayakan juara Liga Champions 1999. Namun, lelucon itu sepertinya tidak adil disematkan kepada pemain serbaguna yang di era lain menjadi pilihan pertama selama bertahun-tahun ini.

Awalnya, May ditempatkan sebagai bek kanan, lalu direbut Gary Neville. Dia akhirnya mendapat tempat sebagai bek tengah seiring kepergian Steve Bruce pada tahun 1996. Musim berikutnya adalah puncak May di United ketika dia membantu mereka meraih gelar liga keempat dan juga mencetak gol pembuka dalam kemenangan 4-0 atas Porto di perempat final Liga Champions.

David Mei mengambil tempat yang lebih tinggi dalam perayaan juara Liga Champions 1999

Henning Berg (1997-2000 – 103 game, 3 gol)

Ferguson telah menjadi pengagum lama dari bek asal Norwegia ini. Dia ingin membawa Berg ke Old Trafford di akhir tahun 1980-an saat masih remaja. Berg akhirnya mendapat kesempatan pada tahun 1997, dengan nilai transfer £ 5 juta dari Blackburn. Saat itu, transfer tersebut adalah rekor di Inggris.

Berg menjadi pemain reguler pada musim 1997-1998 saat gelar United dicuri Arsenal. Karena cedera dan penampilan menawan Jaap Stam, penampilan Berg terbatas selama kampanye Treble. Cedera rekan senegaranya, Ronny Johnsen, membuat Berg bisa kembali bermain di musim 1999-2000. Dia mendapat medali liga kedua dan ketiga dalam karirnya setelah satu medali di Blackburn pada tahun 1995.

Henning Berg menghadang tembakan Ivan Zamorano selama bentrokan United dengan Inter Milan pada tahun 1999

Ronny Johnsen (1996-2002 – 150 game, 9 gol)

Kemampuan Johnsen yang sama baik sebagai bek tengah dan gelandang bertahan membuat Ferguson membujuknya dengan mengeluarkan uang sebesar £ 1.2 juta untuk pindah dari Besiktas pada musim panas 1996. Pemain asal Norwegia itu tidak tertarik pada langkah awalnya tapi tidak menyesal membuat lompatan dalam karirnya. Sebab, bersama United, dia menjuarai empat gelar Premier League, 1 Piala FA, dan 1 Liga Champions saat Johnsen membuktikan dirinya pantas menjadi penerus untuk Steve Bruce.

Johnsen bermain penuh di akhir musim pada 1999 dalam laga terkenal melawan Bayern Munich di final Liga Champions. Dalam laga itu, dia berduet dengan Jaap Stam. Selama tiga atau empat tahun, Johnsen menjadi bagian dari rotasi bek. Pada musim 1999-2000, dia dikalahkan cedera – meskipun dia masih memenuhi syarat untuk mendapat medali liga.

Ronny Johnsen (kiri) mengagumi Piala FA setelah kemenangan United atas Newcastle United pada tahun 1999

Mikael Silvestre (1999-2008 – 361 game, 9 gol)

United mengalahkan persaingan dari Liverpool untuk menandatangani bek kiri Perancis ini , sesuatu yang membuat Ferguson senang. Karir Silvestre di Old Trafford diwarnai dengan duet bek menjulang yang sukses. Didatangkan sebagai penerus Denis Irwin di tim United, Silvestre segera terkesan dengan nalurinya menyerang dan memenangkan dua gelar Premier League di dua musim pertama. Cedera kemudian mengganggu Silvestre. Di sisi lain, kemampuan Patrice Evra di posisi yang sama semakin baik. Alhasil, posisi Silvestre digeser oleh Evra, bek kiri yang juga berasal dari Prncis.

Quote: “Saya belajar semua yang saya tahu tentang sepak bola di tingkat tertinggi dari dia. Saya akan selalu berterima kasih atas kesempatan yang dia berikan kepada saya dan sangat banyak mengarahkan saya,” -Silvestre kepada Ferguson, 2015.

Penerus Denis Irwin di tim United, Mikael Silvestre (kiri) terkesan dengan cara dirinya menyerang

Clayton Blackmore (1982-1994 – 245 game, 26 gol)

Full-back Wales Blackmore lulus dari akademi United dan masuk ke tim utama di bawah asuhan Ron Atkinson. Dia juga menjadi andalan di tahun-tahun pertama masa jabatan Ferguson, di mana belum ada penerus yang bisa menyamai kecepatannya berlari di sisi kiri.

Blackmore pun memainkan peran penting dalam merebut piala pertama Ferguson sebagai manajer United, yakni Piala FA pada 1990 dan Piala Winners tahun berikutnya. Pada saat dianugerahi medali Premier League pada tahun 1993, Blackmore tidak lebih dari pemain dengan sedikit peran.

Full-back Wales Clayton Blackmore adalah pemain reguler pada tahun-tahun awal masa jabatan Ferguson.

Park Ji-sung (2005-2012 – 205 game, 27 gol)

Dengan sinis, pembelian Park Ji-sung pada tahun 2005 dinilai sebagai taktik bisnis agar replika kaus United laris di negara asalnya, Korea. Kenyataannya, Park adalah pekerja keras dan menginspirasi. Dia berperan penting di lini tengah United dalam keberhasilan berkelanjutan United antara 2007 dan 2011. Park pun dengan cepat menjadi idola fans United. Biaya transfer £ 4 juta Park terbukti terlalu kecil saat dia mengangkat empat gelar Premier League, tiga Piala Liga, dan 1 Liga Champions. Satu aksi Park yang paling disorot adalah sundulan melawan rival Liverpool yang mengembalikan United ke puncak Premier League pada Maret 2010.

Quote: ”Ketika Park mulai berlari ke arah bek dan dikawal empat bek, setiap pemain membencinya. Mereka tidak bisa hidup dengan itu. Gerakannya tanpa bola dan kesadarannya untuk mencari ruang luar biasa,” -Ferguson, 2005.

Ji-sung Park melakukannya dengan baik untuk menciptakan ruang dan menyundul bola masuk ke gawang Arsenal.

Nani (2007-2015 – 230 game, 40 gol)

Hampir tidak pernah leluasa bermain dan keluar dari label ”the next Cristiano Ronaldo”, ada beberapa titik terang selama Nani di Old Trafford. Dalam kemenangan 4-0 di Piala FA atas Arsenal pada bulan Februari 2008, pemain sayap asal Portugal itu seperti bermain kesetanan. Dua gol dan dua assist menjadi buktinya.

Nani juga termasuk dalam penendang dalam drama adu penalti melawan Chelsea di final Liga Champions tahun 2008. Dan saat itu sekitar periode 2010 dan 2011, ketika Nani, hampir sepanjang musim bebas cedera, menunjukkan permainan yang paling konsisten. Di luar itu, dia sering membuat fans United frustrasi karena tidak pernah berhasil mengembangkan potensinya secara konsisten.

Quote: ”Dia tidak melakukan tap-in,” -Ferguson pada Nani, 2007

Tendangan chip Nani mengecoh kiper Tim Howard saat United bermain imbang 4-4 melawan Everton pada 2012.

Dimitar Berbatov (2008-2012 – 149 game, 56 gol)

United menguras uang untuk mendatangkan striker Bulgaria Berbatov. United menghabiskan £ 30.75 juta untuk Spurs agar mengizinkan Berbatov hijrah ke Old Trafford sebagai back-up untuk Wayne Rooney pada tahun 2008. Dia pun menjalani empat musim yang cukup bersinar dengan mencetak banyak gol. Aksi memukau Berbatov adalah ketika mencetak hat-trick melawan Liverpool pada bulan September 2010. Satu gol di antaranya begitu fantastis karena dilakukan dengan tendangan overhead.

Berbatov juga mencetak lima gol dalam kemenangan 7-1 melawan Blackburn Rovers di musim lain. Gaya santainya tidak cocok untuk semua orang. Tapi, Berbatov terbukti tajam dengan koleksi 56 gol dalam 149 pertandingan. Dia juga membantu United beraih 2 gelar Premier League. Dia meninggalkan klub dalam keadaan kurang kondusif pada tahun 2012.

Quote: ”Saya mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang yang berhak menerimanya, tapi aku tidak bisa mengucapkan selamat tinggal kepada Ferguson. Saya tahu dia bos, tapi dia telah kehilangan, sampai batas tertentu, hormat saya karena caranya memperlakukan saya,” -Berbatov, 2012.

Dimitar Berbatov dinobatkan sebagai pemain terbaik saat melawan Liverpool pada tahun 2010, aksi ini salah satu parameternya.

Gordon Strachan (1984-1989 – 202 game, 38 gol)

Strachan adalah andalan Ferguson di lini tengah selama kejayaan di Aberdeen, sebelum berangkat ke Old Trafford. Dua tahun kemudian, Fergie menyusul pindah ke Inggris. Ketika Ron Atkinson digantikan oleh Ferguson pada bulan November 1986, Strachan pura-pura menangis dan mengatakan: “Saya tidak pernah berpikir dia (Fergie) akan mengikuti saya jauh di selatan.”

Meskipun tetap menjadi pilihan pertama ketika fit, Strachan tidak mampu mengulangi kemampuan mentereng di Pittodrie. Ferguson pun menganggap tim butuh bintang baru. Namun, pada hari itu, Strachan masih menjadi pemain yang ulet dan terus berusaha.

Strachan adalah andalan Ferguson di lini tengah selama kejayaan di Aberdeen.

Viv Anderson (1987-1991 – 69 games, 4 gol)

Sebagai salah satu bek terbaik di negeri ini, pemain pertama yang didatangkan Ferguson sebagai manajer Manchester United ini adalah langkah yang cerdik. Transfer Anderson dari Arsenal ditangisi oleh fans dari London utara, dan untuk beberapa musim, penampilannya di jantung pertahanan United memang membantu misi Fergie untuk kembali membangun tim.

Pemain internasional Inggris itu kokoh dan membantu United menempati posisi kedua di belakang Liverpool pada musim 1987-1988. Tapi, ketika jatuh ke permainan buruk, dia tidak bisa kembali lagi ke bentuk permainan semula.

Viv Anderson pemain penting. Tapi, ketika jatuh ke permainan buruk, dia tidak bisa kembali lagi. (Daily Mail)

Carlos Tevez (2007-09 – 99 game, 34 gol)

Jika mau adil melihat kualitas pemain, maka Carlos Tevez masih bisa dimasukkan sebagai pemain berkelas selama masa singkatnya di Old Trafford. Meskipun sebenarnya dia bisa tinggal lebih lama lagi. Setelah segala macam perselisihan hukum, Tevez pindah dari West Ham pada 2007. Saat itu, Ferguson mengatakan percaya bahwa striker Argentina itu akan mencetak 15 gol dan akan mencetak gol penting.

Itu terbukti. Tevez mencetak lima gol selama musim kejayaan United di Liga Champions dan menjadi salah satu algojo dalam adu penalti di final. Gol penting melawan Liverpool dan Manchester City membuat Tevez dicintai fans United. Namun, Fergie tidak menyukai Tevez dan membiarkannya pergi, dan akhirnya memilih menyeberang ke rival, City.

Quote: “Sebuah rumor, tidak dikonfirmasi, adalah saingan Manchester kami telah membayar £ 47 juta. Bagi saya, ini adalah jumlah yang luar biasa. Bagi saya, dia adalah pemain yang memberikan dampak,” Ferguson dalam otobiografinya, 2013.

Tevez dicintai fans United, tetapi akhirnya pindah ke City.

Norman Whiteside (1982-1989 – 278 game, 68 gol)

Whiteside telah menuliskan namanya ke dalam cerita rakyat Old Trafford dengan menjadi penentu kemenangan perpanjangan waktu tak terlupakan di final Piala FA 1985 melawan Everton. Saat itu, United hanya bermain dengan 10 pemain. Memang, dia dikenal dengan sebutan ‘Scourge of the Scousers’ karena lama tidak mencetak gol melawan Liverpool dan Everton. Namun, dia adalah pemain yang dibutuhkan Ferguson dalam hari-hari awalnya.

Pada musim 1987-1988, Whiteside membentuk kemitraan yang efektif dengan Brian McClair dan United menjadi runner-up di belakang Liverpool di liga. Saat itu, di musim yang disebut sebagai penampilan terbaik Whiteside, dia datang dari bangku cadangan di Anfield dengan tertinggal 3-1. Dia masuk dan membantu menyamakan kedudukan. Tapi karena cedera dan keinginan Ferguson untuk memproyeksikan pemain lain, Whiteside yang masih 24 tahun dijual pada tahun 1989.

Quote: “Saya merasa gembira menonton pemain dari kelas tertinggi. Sebagai pemain, dia dekat dengan kategori jenius,” Ferguson pada Whiteside dalam otobiografinya.

Ferguson mengatakan Norman Whiteside dekat dengan kategori jenius.

Mark Robins (1988-1992 – 70 game, 17 gol)

Robins memiliki karir jangka pendek di tim, tapi memberikan manfaat yang besar untuk United. Seperti yang kita tahu, dia mencetak gol yang menyelamatkan karir Ferguson. Saat itu 7 Januari 1990 dan media berspekulasi bahwa Ferguson yang belum memenangkan trofi di United akan dipecat.

Robins datang dari bangku cadangan untuk mencetak gol kemenangan United di Piala FA putaran ketiga di Nottingham Forest. Ini menandai kebangkitan United yang akhirnya menjadi juara Piala Liga. Robins juga mencetak gol kemenangan krusial melawan Oldham di semifinal ulangan.

Mark Robins (atas) mencetak gol penting di Piala FA melawan Nottingham Forest dan Oldham pada tahun 1990.

John O’Shea (1999-2011 – 393 game, 15 gol)

Seperti tidak ada poin yang benar-benar mencuri perhatian selama karir O’Shea di Old Trafford. Tapi, pemain Irlandia itu adalah jenis pahlawan tanpa tanda jasa. O’Shea bisa dimainkan sebagai empat posisi bek dan juga gelandang tengah atau sayap. Bahkan, selama krisis cedera di musim 2007-2008, dia pernah menjadi striker darurat.

Meski begitu, O’Shea adalah pemain serbaguna yang dicintai fans. Selama karir di Theatre of Dreams, dia mengoleksi 5 medali Premier League, 1 Piala FA, 3 Piala Liga, dan 1 Liga Champions. Hal yang paling diingat fans dari O’Shea adalah tendangan chip mustahil saat menang 4-2 di kandang Arsenal pada tahun 2005. Dia melakukannya lagi pada kemenangan di menit-menit terakhir di kandang Liverpool, titik balik di musim 2006-2007.

John O’Shea adalah pahlawan tanpa tanda jasa di Man United, chip yang mustahil di kandang Arsenal pada tahun 2005 menjadi sorotan.

Wes Brown (1996-2011 – 362 game, 5 gol)

Salah satu didikan United sendiri, Brown membuat terobosan di akhir musim 1997-1998 yang mengecewakan. Dia kemudian membuktikan diri sebagai bek andalan selama kampanye Treble meskipun hanya bermain 20 kali. Masalah cedera membuat Brown kehilangan posisi sebagai bek tengah. Tapi, ketika dibutuhkan, dia selalu siap dan dapat diandalkan.

Brown tampil baik saat United menang sekaligus memutus rekor ‘Invincibles’ milik Arsenal di semifinal Piala FA 2004. Dia juga memberikan umpan matang kepada Cristiano Ronaldo untuk mencetak gol pembuka melawan Chelsea di final Liga Champions 2008. Menjadi bagian dari era keemasan United, Brown memenangkan 7 gelar liga, 2 Piala FA, 3 Piala Liga, dan 2 Liga Champions.

Quote: “Ketika Wes Brown fit, dia adalah bek alami terbaik di negeri ini,” Ferguson, 2009.

Ferguson berkata, ketika Wes Brown fit, dia adalah bek alami terbaik di negeri ini.

David de Gea (2011-sekarang – 185 game)

Saat itu 2011 dan United sangat membutuhkan kiper untuk menggantikan kiper veteran yang brilian Edwin van der Sar. Ferguson kemudian memilih kiper 21 tahun David de Gea yang didatangkan dari Atletico Madrid senilai £ 17.8 juta. Dia kini menjadi pemain utama, dan diprediksi akan terus mengabdi di Old Trafford selama bertahun-tahun lagi.

Meski awalnya terkendala dengan tubuh yang kurus untuk ukuran Liga Inggris, refleks dan kemampuannya membaca arah bola sangat baik. Sekarang De Gea tidak bermasalah lagi soal potur tubuh. De Gea membantu Ferguson dan United menjuarai Premier League pada 2013.

Butuh waktu bagi David de Gea untuk beradaptasi dengan Premier League, tapi dia sekarang adalah salah satu kiper terbaik di dunia.

Andrei Kanchelskis (1991-1995 – 161 game, 36 gol)

Sebelum zaman David Beckham, sisi kanan United diduduki oleh sayap Rusia, Kanchelskis. Dia memainkan peran kunci dalam awal keberhasilan tim di Premier League. Ferguson ingin pemain sayap secepat kilat di sebelah kanan untuk memberikan tandingan bagi Kanchelskis, Ryan Giggs pundipasang di sisi lain.

Kanchelskis memenangkan Piala Liga pada tahun 1992 dan kemudian membantu klub mengakhiri puasa gelar liga selama 26 tahun pada tahun 1993. Gelar ganda liga dan Piala FA diraih dua musim berikutnya. Puncak permainannya datang setelah itu, yakni mencetak hat-trick dalam kemenangan 5-0 atas City di derby Manchester pada November 1994.

Ferguson ingin pemain sayap secepat kilat di sebelah kanan untuk memberikan tandingan bagi Kanchelskis. (Daily Mail)

Lee Sharpe (1986-1996 – 263 game, 36 gol)

Sebelum Ryan Giggs muncul, posisi sayap kiri milik Lee Sharpe, pemain dengan kecepatan dan penuh aksi yang berkontribusi dalam cukup banyak terjadinya gol. Menerobos di akhir tahun 80-an, Sharpe adalah bagian penting dari kesuksesan United meraih Piala Winners pada tahun 1991. Aksinya yang abadi adalah ketika mencetak hat-trick dalam kemenangan 6-2 melawan Arsenal di Piala Liga pada tahun 1990.

Karena cedera dan sakit, Sharpe pulih untuk melihat tempatnya diduduki Giggs. Meskipun membuat penampilan yang cukup untuk mendapatkan tiga gelar Liga Premier dan dua Piala FA, Sharpe tidak pernah bisa lagi merebut tempatnya dari Giggs.

Lee Sharpe memiliki kecepatan dan penuh aksi yang berkontribusi dalam cukup banyak terjadinya gol.

Darren Fletcher (2003-2015 – 342 game, 24 gol)

Manchester United memiliki tradisi besar dengan pemain Skotlandia dan Fletcher adalah contoh terbaru. Muncul dari produk akademi United, gelandang yang tak pernah menyerah ini selalu menunjukkan kecintaan dan tekad untuk memenangkan pertandingan. Semangat Fletcher begitu besar hingga Jose Mourinho mengatakan bahwa Xavi dan Andres Iniesta dari Barcelona akan senang dia diskors dan tidak bisa tampil di final Liga Champions 2009.

Meskipun penyakit ulcerative colitis (radang usus) membatasi penampilannya pada akhir 2011 hingga 2013, Fletcher masih dimainkan hampir 350 kali untuk United. Dia memenangkan 4 gelar liga, 1 Piala FA, 2 Piala Liga, dan 1 Liga Champions pada tahun 2008.

Darren Fletcher melakukan selebrasi goal di Premier League melawan Everton pada November 2009.

Paul Ince (1989-1995 – 281 game, 29 gol)

Saat United ingin membangun kesuksesan di bawah Ferguson, Paul Ince adalah sosok penting di lini tengah, dengan dribbling dan permainan fenomenal dan penting yang tak terhitung jumlahnya. Ince dibeli senilai £ 1 juta dari West Ham pada tahun 1989, transfer yang kontroversial. Tapi, Ince mengabaikan kritik untuk menjadi benteng di lini tengah United.

Dia membantu United memenangkan Piala FA pada tahun 1990, Piala Winners pada tahun berikutnya, dan dua piala Liga Premier pertama United. Ferguson kemudian menjualnya dengan keuntungan besar pada tahun 1995, tanpa bertemu empat mata sebelumnya. Fergie menyebutnya ‘big-time Charlie’.

Quote: ”Saya menyesal mengatakan [‘big-time Charlie’]. Itu adalah sebuah kesalahan. Dengan Paul, Anda tidak bisa memiliki madu sepanjang waktu, karena ia seperti karakter yang mudah menguap, tapi dia tidak pernah mengecewakan kita,” kata Ferguson, 2008.

Aksi spektakuler Paul Ince di kandang Queens Park Rangers pada 1994.

Teddy Sheringham (1997-2001 – 145 game, 46 gol)

”Can Manchester United score? They always score…. It’s in towards Schmeichel, Giggs with the shot… SHERINGHAM!!!!… Name on the trophy!” Clive Tyldesley di ITV, 26 Mei 1999.

Tidak ada yang meragukan kontribusi terbaik Sheringham untuk United. Dia menjadi penentu kemenangan di final Liga Champions 1999 melawan Bayern Munich. Namun, gol Sheringham di keseluruhan musim juga tidak bisa diabaikan.

Sheringham bergabung dari Tottenham pada tahun 1997, dimaksudkan sebagai pengganti Eric Cantona. Tapi, musim pertamanya mengecewakan tanpa trofi. Kemudian, kampanye Treble terkenal itu pun tiba. Meskipun Sheringham tidak pernah menjadi pilihan utama, mengingat ada duet tajam Dwight Yorke dan Andy Cole. Namun, kontribusi Sheringham ketika dimainkan sangat penting.

Momen terbaik Sheringham di United, mencetak gol penyama kedudukan di final Liga Champions 1999.

Nicky Butt (1992-2004 – 387 game, 26 gol)

Gelandang bertahan yang tangguh ini adalah salah satu alumni Class of ’92. Dia menjadi pelapis Roy Keane yang cukup sepadan di lini tengah. Dia juga tak jarang mencetak gol penting. Daya jelajahnya di lini tengah juga cukup baik. Puncak penampilan Butt datang antara tahun 1997 dan 2000, ketika dia secara konsisten bermain dan performanya mengagumkan.

Butt memenangkan 6 gelar Premier League, 3 Piala FA, dan 1 Liga Champions pada tahun 1999. Di final Liga Champions, Butt tampil penuh dan tangguh, saat Roy Keane absen karena akumulasi kartu.

Butt mencetak gol dengan sundulan melayang dalam kemenangan 4-0 United atas Newcastle United di FA Charity Shield 1996.

Gary Pallister (1989-1999 – 437 game, 15 gol)

Sebuah benteng di jantung pertahanan United. Kemitraan Pallister dengan Steve Bruce adalah faktor kunci dalam awal keberhasilan United di Premier League. Sebagai pasangan, mereka sering dimainkan, membuktikan menjadi momok yang sulit ditembus bagi banyak striker.

United memecahkan rekor transfer untuk bek ketika memboyong Pallister dari Middlesbrough. Dia membalasnya dengan membantu United memenangkan 4 gelar Premier League, 3 Piala FA, 1 Piala Liga, dan 1 Piala Winners. Penampilan memukau Pallister di Old Trafford mungkin datang ketika mencetak gol lewat tendangan bebas melawan Blackburn pada tahun 1993, akhir yang sempurna untuk musim yang brilian.

Gary Pallister menyundul bola selama pertandingan melawan Dortmund di semifinal Liga Champions 1997.

Edwin van der Sar (2005-2011 – 266 game)

Sedikit mengherankan saat Ferguson menganggap Van der Sar sebagai kiper terbaik untuk mewakili klub sejak Peter Schmeichel.
Bergabung ke Old Trafford saat Chelsea mendominasi Liga Premier, penandatanganan kiper raksasa asal Belanda itu adalah awal dari rencana untuk mengisi kekuatan United dari belakang. Kehandalan Van der Sar di bawah mistar gawang mengisyaratkan United akan mengakhiri tahun tandus. Akhirnya, United memenangkan empat gelar dalam lima musim antara tahun 2006 dan 2011.

Selama kampanye musim 2008-2009, Van der Sar membuat rekor baru 1.311 menit tanpa kebobolan di liga (atau 14,5 pertandingan). Dia juga membuat penyelamatan penting dengan menggagalkan tendangan penalti Nicolas Anelka di final Liga Champions 2008 saat melawan Chelsea. United pun juara Eropa untuk ketiga kali.

Quote: ”Kami sekarang dalam situasi yang sama dengan ketika Peter Schmeichel meninggalkan klub. Kita kemudian harus menandatangani Edwin,” kata Ferguson ketika Van der Sar pensiun pada tahun 2011.

Van der Sar melakukan selebrasi setelah John Terry terpeleset dalam babak adu penalti final Liga Champions League pada 2008.

Phil Neville (1994-2005 – 386 game, 8 gol)

Jenis pemain yang rajin dan serbaguna yang diidamkan setiap manajer. P. Neville adalah lulus Class of ’92 yang bisa beroperasi di sejumlah posisi untuk United selama beberapa musim kesuksesan. Meskipun tidak pernah menjadi pemain utama di satu posisi pun, Neville rata-rata bermain 40 kali dalam semusim selama satu dekade, dan memenangkan hampir semua penghargaan mayor.

Neville adalah orang yang bisa ‘melakukan pekerjaan’, bermain ulet, dan memiliki tingkat kerja sempurna. Dia pun mendapat kepercayaan dan dikagumi Ferguson.

Aksi Phil Neville saat Manchester United menang atas Rangers di Liga Champions pada 2003.

Patrice Evra (2006-2014 – 379 game, 10 gol)

Evra tiba dari Monaco pada jendela transfer Januari 2006 ketika Ferguson mencari pengganti Gabriel Heinze yang cedera. Tapi, dia akhirnya menyisihkan Heinze dan merebut posisi bek kiri yang bertahan selama bertahun-tahun.

Bek Prancis ini sering membantu serangan dan kembali bertahan dengan cepat. Evra menjadi bagian penting dari kesuksesan tim erguson antara 2007 dan 2009. Evra membantu United meraih 5 gelar liga, 3 Piala Liga, dan 1 Liga Champions pada tahun 2008, di mana dia bermain penuh selam 120 menit di final.

Patrice Evra merayakan golnya untuk United saat melawan Liverpool di Old Trafford pada Januari 2013.

Denis Irwin (1990-2002 – 529 game, 33 gol)

Sebelum Evra mencatatkan sejarah sebagai bek kiri andal, ada lagi pemain di sisi kiri pertahanan United yang lebih dulu terkenal, Denis Irwin. Pemain Irlandia itu sangat konsistensi dalam beberapa tahun. Irwin memainkan peran penting pada awal keberhasilan United merebut gelar Premier League. Dia juga sering menjadi eksekutor tendangan bebas dan tendangan penalti.

Ditransfer dari Oldham seharga £ 625.000, Irwin membuktikan diri bahwa harga tersebut sangat murah bila diukur dengan kontribusinya. Dia bermain lebih dari 500 kali untuk United dan tetap menjadi pilihan pertama di posisi bek kiri saat berusia tiga puluhan. Mungkin banyak yang akan iri. Karena, Irwin telah mengoleksi 7 gelar liga, 3 Piala FA, 1 Piala Liga, 1 Liga Champions, 1 Piala Winners, dan 1 Piala Intercontinental.

Denis Irwin (kanan) berselebrasi dengan David Beckham setelah mencetak gol lewat penalti vs Feyenoord pada 1997.

 Michael Carrick (2006-sekarang – 392 game, 23 gol)

Carrick diplot sebagai penerus jangka panjang untuk Roy Keane dan mendapat warisan No 16 saat tiba pada tahun 2006. Carrick mungkin tidak menjadi berita utama seperti Keane. Tapi, dia tampil konsistensi di lini tengah sebagai pengendali permainan. Dia kini menjadi salah satu pemain yang dihormati di skuad United.

Carrick sudah mengoleksi lima medali Premier League, 1 Piala Liga, 1 Liga Champions, dan 1 FIFA Club World Cup.

Michael Carrick merayakan gelar liga terakhir Sir Alex musim 2012-2013.

Dwight Yorke (1998-2002 – 147 game, 65 gol)

Setelah terpaut 12 poin dari Arsenal pada musim 1997-1998 di Liga Premier, United jelas membutuhkan senjata yang lebih tajam. Jawaban Ferguson adalah mendatangkan Yorke dari Aston Villa senilai £ 12.6 juta. Pemain dengan julukan ’Smiling Assasin’ itu cepat menyatu dengan Andy Cole untuk membantu United meraih Treble di musim debutnya! Yorke yang dinilai terlalu mahal justru menyumbang 29 gol musim itu dan membantu United mempertahankan gelar dengan margin 18 poin.

Dia juga mencatatkan gol-gol penting selama musim 1998-1999. Yorke mencetak dua gol melawan Inter Milan di perempat final Liga Champions, dua gol di putaran keenam ulangan Piala FA melawan Chelsea, satu gol di kandang Juventus di semifinal Liga Champions, dan go-gol lain di liga yang tak terhitung jumlahnya. Gol lebih lanjut, termasuk hat-trick dalam kemenangan 6-1 dari penantang terdekat Arsenal, membantu United meraih gelar ketiga secara berturut-turut pada tahun 2001.

Dwight Yorke selebrasi saat Man United menang 5-0 atas Brondby di musim Treble 1998-1999.

Brian McClair (1987-1998 – 471 game, 127 gol)

McClair adalah pemain favorit fans berkat gol-golnya selama akhir musim 80-an dan awal 90-an. Dia adalah peletak dasar kejayaan United di bawah Ferguson. Dipanggil ‘Choccy’ di lingkungan keluarga karena namanya mirip dengan cokelat eclair, bisa menjalankan instruksi sebagai pemain tengah dengan memuaskan. Setelah pensiun, dia kemudian menjadi direktur akademi United selama sembilan tahun, membantu melahirkan genersi penerus yang mumpuni.

Setelah dikontrak dari Celtic senilai £ 850.000 pada tahun 1987, McClair memulai musim dengan 31 gol dan mengambi selama 16 tahun. Pada tahun 1990, dia mengumpulkan medali perak pertamanya di United untuk gelar Piala FA. Sukses di Piala Winners dan Piala Liga, di mana McClair mencetak gol kemenangan melawan Nottingham Forest. Dia melanjutkan kesuksesan dalam merebut empat gelar Premier League.

Brian McClair selebrasi setelah mencetak gol untuk United di semifinal ulangan FA Cup 1990 melawan Oldham.

Jaap Stam (1998-2001 – 127 game, 1 gol)

Dengan cara yang sama, yakni United kalah bersaing dengan Arsenal pada tahun 1998, Ferguson memutuskan untuk mendatangkan benteng sekuat baja di lini belakang. Bek tangguh asal Belanda pun diakuisisi dari PSV Eindhoven seharga £ 10.6 juta. Peran Stam di lini belakang pun sangat sentral dan membawa United mendominasi liga di era milenium. Dalam musim pertamanya, Stam membantu United meraih Treble, dengan bermain di 51 pertandingan.

Stam mengadopsi permainan tanpa kompromi, dengan kekuatannya dan kemampuan membaca permainan yang baik. Itu berarti, hanya striker yang memiliki kemampuan di atasnyalah yang bisa menembus pertahanannya. Dia memainkan peran utama saat United meraih dua gelar liga berikutnya. Namun, tuduhan dalam otobiografinya bahwa Ferguson telah melakukan pendekatan ilegal saat merekrutnya dari PSV membuat karirnya di Old Trafford tamat. Dia pun dijual pada tahun 2001 sebelum kontraknya habis.

Jaap Stam mengangkat trofi Premier League musim 2001.

Ole Gunnar Solskjaer (1996-2007 – 366 game, 126 gol)

The ultimate sub super. Solskjaer terbukti sebagai salah satu pemain Ferguson yang paling menginspirasi. Dia juga sudah terpatri dalam cerita rakyat Old Trafford setelah apa yang dilakukannya pada menit-menit akhir di final Liga Champions melawan Bayern Munich pada 1999. Solskjaer dipuja oleh fans United untuk gol di menit-menit terakhir yang memastikan gelar Treble itu. Dia juga memiliki banyak kontribusi di liga dan kompetisi lainnya. Biaya £ 1,5 juta untuk membawanya ke Old Trafford terbukti menjadi salah satu transfer terbaik dalam sejarah.

Dijuluki ’Baby-faced Assassin’ karena wajahnya selalu terlihat muda dengan finishing mematikan, gol-gol Solskjaer sangat luar biasa karena kebanyakan dia masuk sebagai pemain pengganti. Tapi, dia tidak pernah mengeluh tentang perannya. Bukannya memprotes, dia malah mempelajari permainan dari bangku cadangan sehingga sering menjadi penentu kemenangan di menit-menit akhir. Laga di Nou Camp adalah contoh yang paling mengesankan. Momen mentereng lainnya adalah saat mencetak 5 gol dalam kemenangan 8-1 atas Nottingham Forest di musim yang sama. Lagi-lagi, dia masuk sebagai pemain pengganti.

Solskjaer secara teratur mencetak gol selama dua atau tiga tahun, sebelum akhirnya cedera membuat ketajamannya memudar. Selama membela United, dia memenangkan 6 Premier League, 2 Piala FA, 1 Liga Champions, dan 1 Piala Intercontinental.

Ole Gunnar Solskjaer melakukan selebrasi gol kemenangan di final Liga Champions pada tahun 1999.

Nemanja Vidic (2006-2014 – 300 game, 21 gol)

Vidic adalah penerus dari sejarah benteng tangguh di lini pertahanan United selama era Ferguson. Tanpa kompromi dengan tackle keras, dia menjadi benteng yang sulit ditembus. United membayar £ 7 juta untuk pemain Serbia itu pada Januari 2006. Kemitraannya dengan Rio Ferdinand terbukti menjadi elemen penting dalam kembalinya era keemasan United saat menjuarai liga pada 2006 dan musim-musim selanjutnya.

Vidic mencapai puncak permainannya pada musim 2008-2009 ketika menerima penghargaan Fans’ Player of the Year meski ada Cristiano Ronaldo di dalam tim. Kejutan kemudian berlanjut saat Ferguson menunjuk Vidic sebagai kapten pada tahun 2010. Meskipun cedera membuat waktu bermainnya berkurang, Vidic tetap menjadi contoh pemain belakang United yang sulit dicari penggantinya.

Lompatan selebrasi Nemanja Vidic setelah mencetak gol melawan Chelsea pada Mei 2011.

Ruud van Nistelrooy (2001-2006 – 219 game, 150 gol)

Van Nistelrooy dikenal sebagai striker haus gol. Dalam lima musim di Old Trafford, striker asal Belanda itu secara berturut-turut mencetak gol sebanyak 36, 44, 30, 16 (karena cedera) dan 24. Mencetak gol seperti sudah menjadi bakat alami Van Nistelrooy. Sayangnya, kehebatannya di depan gawang lawan tidak terlalu dihiasi gelar. Van Nistelrooy hanya memenangi 1 medali Premier League plus 1 Piala FA dan 1 Piala Liga. Dengan 38 gol di Liga Champions, Van Nistelrooy memegang rekor pencetak gol terbanyak klub di Eropa. Kini rekornya mencetak gol di 10 pertandingan Liga Premier secara berturut-turut berada dalam ancaman Jamie Vardy.

Gol yang terkenal dari Van Nistelrooy adalah dua gol di Piala FA 2002 saat comeback di Aston Villa. Lalu, gol setelah menggiring bola dari garis tengah melawan Fulham pada tahun 2003, serta gol tunggal di Arsenal beberapa bulan kemudian. Ditambah cara khasnya saat merayakan gol di depan fans. Karena berseteru dengan Sir Alex Ferguson, Van Nistelrooy pindah ke Real Madrid pada tahun 2006.

Ruud van Nistelrooy setelah mencetak gol ke-150 untuk Manchester United.

Mark Hughes (1988-1995 musim kedua – 352 game, 116 gol)

Hughes memulai karirnya di United, menghabiskan dua musim di Barcelona, sebelum Ferguson membuat keputusan untuk membuat rekor £ 1.8 juta guna membawa dia kembali ke Manchester pada tahun 1988. Keputusan itu tidak salah, karena Sparky menjadi pencetak gol yang menghancurkan dan membawa United kembali mendominasi Inggris.

Hughes mencetak dua gol di final Piala FA pada 1990 melawan Crystal Palace, yang dimenangi United di laga replay menyusul hasil imbang 3-3 di pertemuan pertama. Dia kemudian mencetak dua gol melawan mantan klubnya, Barcelona, dan United meraih Piala Winners pada tahun 1991, salah satu momen terbaik Hughes. Sebagai era Premier League dimulai pada 1992, Hughes membentuk kemitraan menakutkan dengan Eric Cantona, memenangkan dua gelar liga dalam tiga musim.

Mark Hughes merayakan gol ke-116 untuk saat melawan Southampton pada 1990.

Rio Ferdinand (2002-2014 – 455 game, 8 gol)

Setelah gagal meraih gelar pada musim 2001-2002, Ferguson tahu apa yang dibutuhkan. Dana £ 30 juta pun sanggup membujuk Leeds untuk melepas Rio Ferdinand setelah perjuangan. Pemain Inggris itu adalah bek yang lengkap, cepat, terampil, unggul di udara dan memiliki pergerakan yang cepat. Pelayanannya lebih dari belasan tahun di Old Trafford adalah teladan. Ferdinand pun mengoleksi 6 gelar Premier League, 3 Piala Liga, dan 1 Liga Champions pada tahun 2008.

Ferdinand pernah melalui musim terburuk, yakni dilarang bermain 8 bulan karena gagal dalam tes doping pada musim 2003-2004, ditambah masalah cedera. Tapi, musim demi musim, Ferdinand adalah model profesional dan benar-dianggap sebagai salah satu bek terbaik di era Premier League.

Rio Ferdinand menjadi bek tangguh bagi United lebih dari satu dekade.

Andrew Cole (1995-2001 – 275 game, 121 gol)

Cole adalah pencetak gol paling produktif di Liga Premier. Dia mencetak 68 gol dalam 84 laga untuk Newcastle, rata-rata tingkat golnya adalah 81 persen – ketika Ferguson berhasil mengontraknya senilai £ 7 juta dalam kesepakatan kejutan pada tahun 1995. Dalam beberapa minggu setelah bergabung, Cole mencetak lima gol saat melawan Ipswich Town meskipun United akhirnya kehilangan gelar yang direbut Blackburn. Cole masih bermain di bayang-bayang Cantona dan berjuang untuk meningkatkan performa sampai paruh kedua musim emas dengan gelar Double pada musim 1995-1996.

Cole hampir dijual, kemudian dua kali mengalami patah kaki, tapi menampilkan tekad yang cukup luar biasa untuk melawan, yang kemudian membuatnya tampil tajam dan memenangkan trofi demi trofi. Pada tahun Treble, kemitraannya dengan Yorke sering tak tertahankan dan mereka total mencetak 53 gol. Tengangan lob Cole saat melawan Tottenham membantu United memenangkan gelar Liga Inggris. Dia juga menyumbang gol tak ternilai di Eropa. Secara keseluruhan, Cole mencetak 121 gol untuk United dan menjadi salah satu striker terbaik yang pernah dimiliki United.

Cole mengecoh kiper Tottenham Ian Walker pada tahun 1999.

Steve Bruce (1987-1996 – 414 game, 52 gol)

Seorang jenderal pertahanan, Bruce adalah bek raksasa di bawah arahan Fergie. Dikontrak dari Norwich City pada tahun 1987, Bruce segera membentuk kemitraan dengan Gary Pallister yang akan membawa United meraih kemenangan dan piala. Menjadi pemain yang selalu hadir dalam tahun demi tahun, Bruce membual rekor gol yang sangat baik untuk ukuran bek tengah. Sebab, dia memiliki keunggulan dalam memanfaatkan umpan bola-bola mati.

Fans United tidak akan pernah lupa gol sundulan kemenangan Bruce atas Sheffield Wednesday pada tahun 1993. Gol itu memastikan United mengakhiri puasa gelar liga selama 26 tahun. Benar, Bruce menjadi kapten United di tahun embrio Premier League, untuk menggantikan Bryan Robson. Bruce kemudian menunjukkan kualitas kepemimpinan yang luar biasa selama bertahun-tahun.

Bruce merayakan gol dari sundulan saat melawan Sheffield Wednesday pada tahun 1993.

David Beckham (1992-2003; 394 game, 85 gol)

Seperti kita semua tahu, Beckham adalah sosok global yang popularitasnya telah lama melampaui permainan sepak bola. Namun, untuk saat ini, kita harus berkonsentrasi pada kontribusinya untuk Manchester United di lapangan. Beckham adalah pemecah kebuntuan. Dia adalah pemain yang memiliki bakat alami, dengan tendangan bebas melengkung yang mematikan. Beckham hampir tidak pernah gagal mengeksekusi tendangan bebas menjadi gol. Dia menunjukkan bakat emasnya saat menjuarai FA Youth Cup 1992.

Tim itu adalah kelompok pemuda penuh talenta binaan Sir Alex Fersuson –yang mengingatkan kita pada Busby Babes– di mana Beckham termasuk menonjol sebagai pemuda. Kemampuannya dalam menempatkan bola di sudut-sudut yang sulit dijangkau kiper membuatnya menjadi pemain terbaik United dalam 10 tahun. Tidak akan ada yang lupa pada gol Beckham dari garis tengah lapangan pada tahun 1996. Atau gol penting melawan Spurs pada 1999. Ada juga tendangan bebasnya saat melawan Manchester City pada tahun 2000. Tentu masih banyak lagi.

Becks memenangkan 6 gelar Premier League, 2 Piala FA, dan 1 Liga Champions di United, meskipun akhirnya hubungannya dengan Ferguson berakhir pahit dan dia pun pergi ke Real Madrid pada tahun 2003.

Quote: ’’Bagaimana Anda bisa lupa gol dari 60 meter (melawan Wimbledon)? Dia mencoba sekitar 10 menit sebelum dia mencetak gol dan saya berkata kepada asisten saya, Brian Kidd, ’’Jika ia mencoba lagi, dia keluar,’’ kata Ferguson soal gol terkenal Beckham pada tahun 1996.

David Beckham berselebrasi setelah mencetak gol di Old Trafford saat menang 4-1 melawan Charlton.

Wayne Rooney (2004-sekarang; 497 game, 237 gol)

Kemampuan Ferguson untuk mengambil berlian kasar dan memolesnya menjadi pemain kelas dunia ditunjukkan saat mendatangkan Wayne Rooney. Dia hanya seorang anak 18 tahun ketika United membayar £ 25 juta untuk membawa dia dari Everton pada tahun 2004. Fergie mengakui bahwa itu adalah usaha sulit untuk meyakinkan direksi untuk membeli pemain yang kemampuannya sehingga belum terbukti.

Tetapi, dengan atribut pesepak bola jalan dan berjiwa singa dengan bodi layaknya petinju, Rooney diprediksi akan sukses di Old Trafford. Ya, memang penampilannya pasang surut, tapi kontribusinya berupa 237 gol untuk klub membuatnya masuk dalam daftar legenda. Gol-gol menakjubkan dengan selebrasi yang emosional dengan teriakan sangar hampir sering tersaji di hadapan fans. Pada tahun 2005, misalnya, ketika tendangan voli dari 35 meter mengoyak jala gawang Newcastle United, ketika dia hendak digantikan oleh Kleberson.

Atau tendangan overhead melawan City yang menantang logika dan gravitasi. Rooney, sekarang kapten United, belum selesai bermain sehingga sulit untuk mengatakan bagaimana sejarah akan menghakimi dia. Tapi, sejarahnya akan mentereng. Koleksinya adalah 5 gelar Premier League, 2 Piala Liga, 1 Piala Eropa, dan 1 Piala Dunia Klub. Belum lagi sejumlah penghargaan individu.

Quote: ’’Kadang-kadang Anda melihat di ladang dan Anda melihat sapi dan Anda berpikir itu adalah sapi lebih baik daripada yang Anda punya di ladang,’’ kata Ferguson saat Rooney menandatangani kontrak baru pada 2010.

Tendangan overhead melawan City yang menantang logika dan gravitasi. Rooney, sekarang kapten United.

Gary Neville (1992-2011; 602 game, 7 gol)

Gary Neville adalah pemain yang sulit ditemukan padanan atau penggantinya di lapangan. Dia adalah pemain dengan hanya satu klub di sepanjang karirnya, membuat lebih dari 600 penampilan untuk United selama hampir dua dekade. Gary adalah didikan akademi United dan lulus melalui Class of ’92. Dia menjadi bek kana terbaik Inggris di generasinya. Dan bisa juga disebut salah satu bek kanan terbaik di dunia.

Neville sering maju untuk membantu Beckham dalam menyerang. Setelah itu, dia bisa dengan cepat kembali turun untuk bertahan ketika diserang balik. Sebagai bukti penampilan gemilangnya, Gary berhasil mengoleksi 8 trofi Premier League, 3 Piala FA, 2 Piala Liga, dan 2 Piala Eropa. Saat dia cedera, United masih bisa menang, tapi permainannya tak seindah ketika Gary bermain.

Quote: ’’Jika dia adalah lebih tinggi beberapa inci, dia akan menjadi bek tengah terbaik di Inggris. Ayahnya setinggi 6 kaki 2 inci – Saya akan memeriksa pengantar susu,’’ kata Fergie kepada Neville yang setinggi 5 kaki 11 inci.

Selebrasi terkenal Gary Neville dengan mencium logo klub setelah Rio Ferdinand mencetak gol kemenangan telat melawan Liverpool di Old Trafford pada Januari 2006.

Bryan Robson (1981-1994; 461 game, 99 gol)

Ferguson bukan pelatih yang membawa Bryan Robson ke United. Tapi, dia membantunya menjadi pemain hebat dengan julukan Captain Marvel. Tajam dan pantang menyerah. Tidak seorang pun memberikan kritikan negatif kepada gelandang serang yang membantu United bangkit di era sulit itu. Robson bisa disebut sebagai fondasi kejayaan Sir Alex di tahun-tahun mendatang

Ketika Robson mengangkat Piala FA pada Mei 1990, sudah lima tahun dia menjadi jenderal lapangan tengah. Dan pada saat United mulai mendominasi di musim awal Premier League, tempat Robson mulai memiliki pesaing. Pada tahun 2011, Robson terpilih sebagai pemain terbaik yang pernah dimiliki United dalam jajak pendapat mantan pemain. Itu menjadi bukti betapa pentingnya Robson bagi klub.

Quote: ’’Ada pengaruh besar seperti Bryan Robson, Roy Keane, dan Steve Bruce. Mereka bukan tipe untuk memiliki ego … Mereka memiliki keinginan yang indah dan mereka adalah pemain terbaik,’’ Ferguson, 2015.

Bryan Robson, Captain Marvel, menerima penghargaan dari legenda United lainnya, Denis Law, di laga terakhirnya untuk United pada 1994.

Peter Schmeichel (1991-1999; 393 game, 1 gol)

Setiap tim sepak bola besar membutuhkan kiper yang hebat, dan Peter Schmeichel termasuk dalam kategori itu. Meski untuk sebagian besar era Ferguson, United mendominasi permainan, akan ada beberapa di mana Great Dane berjibaku sendirian dalam pertarungan. Schmeichel memiliki tekad kuat, refleks brilian, mental baja, motivasi tinggi, dan keras! Hal-hal yang merepresentasikan betapa berkuasanya dia di kotak penalti.

Dikontrak dari Brondby pada tahun 1991 dengan hanya £ 505.000 –yang disebut sebagai penawaran terbaik abad itu oleh Ferguson– Schmeichel adalah kiper No 1 United untuk sisa dekade. Dia memenangkan 5 gelar Premier League, 3 Piala FA, 1 Piala Liga, dan 1 Liga Champions pada tahun 1999, musim perpisahannya dengan United. Serangkaian momen terbaik Schmeichel dibuat di Newcastle saat United meraih kemenangan penting dalam perburuan gelar tahun 1996. Dia juga menepis pola dengan sangat brilian saat melawan Rapid Vienna akhir tahun itu. Ada juga aksi saat menghadang tembakan penalti Dennis Bergkamp di semifinal ulangan Piala FA tahun 1999.

Quote: ’’Dia menjulang di atas saya dan pemain lain yang hampir menutupi mata mereka. Aku melihat ke atas dan berpikir ‘jika dia memukul saya, aku mati’,’’ kata Fergie mengingat perdebatannya dengan Schmeichel di ruang ganti.

Schmeichel melakukan penyelematan terbang saat United menang 1-0 melawan Tottenham pada Januari 1994.

Roy Keane (1993-2005; 480 game, 51 gol)

Sukses dalam sepak bola tergantung pada standar. Roy Keane tidak hanya memenuhi standar, dia mendefinisikan itu. Keane dipuji fans United sebagai sosok yang memiliki kemampuan langka untuk menyeret tim keluar dari situasi sulit. Gigih, tanpa kompromi, tak pernah berhenti. Dia mungkin Iblis Merah yang sesungguhnya. Didatangkan Ferguson dengan memecahkan rekor transfer Inggris, Keane adalah penerus alami untuk Robson, membuat lini tengah solid dan memastikan awal kesuksesan United di Premier League.

Keane juga menjadi pemain paling impresif pada tahun 1999 saat melawan Juventus di Turin. Dia membantu United ke final, meskipun dia harus membayarnya dengan absen di laga puncak karena akumulasi kartu. Kami telah membahas standar, bagaimana dengan keberhasilan? Dia mengoleksi 7 gelar liga, 4 Piala FA, dan 1 Liga Champions. Tidak buruk. Tapi, hubungannya dengan Ferguson menggelora. Ego mereka selalu bentrok dan itu selalu akan membuktikan akhir karir Keane saat dia akhirnya pergi pada tahun 2005.

Quote: ’’Bagian tersulit dari tubuh Roy adalah lidahnya. Itu menakutkan untuk dilihat. Dan aku dari Glasgow,’’ kata Ferguson dalam otobiografinya.

Duel antar kapten, Keane dan Vieira, menjadi simbol rivalitas United dan Arsenal.

Eric Cantona (1992-1997; 185 game, 82 gol)

Akankah ada lagi kepribadian lain seperti Eric Cantona? Sangat diragukan. Kombinasi yang jenius di lapangan dan karakter misteriusnya susah direplikasi. Beberapa pemain berjalan-jalan ke Old Trafford dan mempertanyakan apakah klub cukup besar bagi mereka, bukan sebaliknya. Tapi, Eric pada tahun 1992, ketika dibeli dari Leeds United, klub sedang mendekam di tengah klasemen.

United di posisi 10 ketika Cantona tiba pada November. Pada bulan Mei, United unggul 10 pion di urutan atas klasemen, mengakhiri puasa gelar liga selama 26 tahun. Dia tipe pemain arogan dengan skill menawan. Sebut saja gol indah lewat chip saat melawan Sunderland pada tahun 1996, gol melawan Arsenal, gol penentu kemenangan pada tahun 1996 di final Piala FA, membantu United meraih gelar ganda dan empat gelar liga secara keseluruhan.

Ada saat-saat muram, terutama saat Cantona dihukum larangan bermain 8 bulan setelah menendang fans Crystal Palace, Matthew Simmons, di Selhurst Park. Entah mengapa, saat berada di masa keemasan, dia justru pensiun tidak lama setelah kembali, yakni pada tahun 1997, setelah hanya lima musim di United.

Quote:’Jika ada satu pemain, di mana saja di dunia, yang diciptakan untuk Manchester United, itu Cantona. Dia berjalan angkuh, dadanya membusung, mengangkat kepalanya, dan mengamati segala sesuatu seolah-olah dia bertanya: ’Saya Cantona. Seberapa besar Anda? Apakah Anda cukup besar bagi saya?’’ kata Fergie soal sosok striker Prancis itu.

Ferguson bersama Cantona setelah Manchester United mengalahkan Chelsea di Villa Park untuk merebut Piala FA 1996.

Cristiano Ronaldo (2003-2009; 292 game, 118 gol)

Ferguson mencapai banyak hal di United. Tetapi, apa yang dilakukannya untuk membesarkan Cristiano Ronaldo dari remaja hingga menjadi pesepak bola terbaik di dunia menjadi salah satu prestasi terbesar Fergie. Pemain Portugal itu, saat masih berusia 17 tahun, telah menunjukkan sihir dalam laga pramusim antara Sporting Lisbon dan United pada musim panas 2003. Ferguson menolak untuk meninggalkan stadion tanpa membawanya ke United. Proses kepindahannya sangat cepat, dan dia membalasnya dengan membawa United menguasai Inggris, dan menaklukkan Eropa.

Kuantitas gol dan umpan Ronaldo menghiasai musim kegemilangan antara tahun 2006 dan 2009. Performanya adalah benar-benar menakutkan. Saat itu kampanye musim 2007-2008, ketika Ronaldo naik ke tingkat permainan yang lain, mencetak 42 gol untuk membantu United meraih gelar ganda impian, Premier League dan Liga Champions. Ferguson sudah seperti ayah bagi anak ajaib itu, membimbing dia setiap langkah. Fakta bahwa Ronaldo telah pergi untuk Real Madrid, yang memecahkan rekor transfer dunia pada tahun 2009, merupakan bukti betapa berharganya dia.

Quote: ’’Dia adalah seorang pemain yang membuat saya mau mengeluarkan uang untuk melihatnya,’’ saya ingin membayar uang untuk pergi dan melihat bermain,’’ Ferguson pada Ronaldo.

Cristiano Ronaldo mencium trofi Premier League pada tahun 2009.

Paul Scholes (1993-2011 dan 2012-2013; 718 game, 155 gol)

Bagi seorang pria yang sengaja menghindari jalan untuk menghindari perangkap ketenaran, Scholes mendapat beberapa pujian yang cukup menakjubkan. Socrates mengatakan, dia cukup baik bermain untuk Brasil. Xavi mengatakan dia panutannya, Ronaldo menyebutnya fenomena dan Pele mengatakan dia akan mencetak banyak gol jika Scholes bermain di belakangnya.

Saat dia muncul dari Class of ’92 dan mulai mengisi skuad utama, Scholes muda berkata: ’’Ketika itu selesai, saya hanya ingin melihat di cermin dan berkata ’baik, Anda adalah pemain yang cukup layak.’’ Saya pikir itu adil. Lebih dari 700 pertandingan, 155 gol, dan 20 gelar mayor adalah kehormatan besar dan ribuan penampilan istimewa. Ini contoh beberapa gol Scholes yang menonjol, yakni tendangan voli melawan Bradford pada tahun 2000, gol serupa di Aston Villa pada tahun 2006, dan gol mengejutkan saat melawan Barcelona pada tahun 2008.

Quote: ’’Salah satu otak sepak bola terbesar yang pernah dimiliki Manchester United,’’ Ferguson kepada Scholes.

Ferguson dan Paul Scholes setelah United juara Premier League tahun 2013.

Ryan Giggs (1990-2014; 963 game, 168 gol)

Secara harfiah, yang bermain di semua musim Premier League, Giggs adalah ikon dari era Ferguson di Manchester United. Tidak ada pemain di era modern yang bisa menunjukkan, bukan hanya umur panjang yang mengagumkan, tetapi juga konsisten dengan standar tinggi. Datang dari pembinaan pemain muda United, Giggs mengepakkan sayap hingga menaklukkan Eropa. Dalam banyak hal, dia adalah lambang fondasi yang ingin ditanamkan Ferguson di Old Trafford.

Giggs memiliki kecepatan kilat, jago ikut membantu pertahanan, menekan terus-menerus, dan gol-gol memukau. Serangan, serangan, dan serangan dengan memainkan hampir 1.000 pertandingan dengan United. Begitu banyak momen emas Giggs. Tetapi, gol menyilaukan melawan Arsenal di tahun Treble pasti tidak tersaingi. Selama pelayanan seperempat abad untuk United, Giggs telah mengoleksi 13 Premier League, 4 Piala FA, 3 Piala Liga, 2 Piala Eropa, 1 Piala Intercontinental, dan 1 Club World Cup. Itulah mengapa Giggs menjadi nomor 1 di daftar ini.

Quote: ’’Saya ingat pertama kali aku melihatnya. Dia adalah 13 tahun dan melayang di atas tanah seperti cocker spaniel mengejar selembar kertas perak di atas angin,’’ kata Fergie pada Giggs.

Giggs berselebrasi setelah mencetak gol kemenangan di semifinal ulangan Piala FA 1999 melawan Arsenal.

1 comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: