FOKUS: Ini Alasan Michael Carrick Adalah Pemain Terpenting Manchester United dan Timnas Inggris

Penampilannya sederhana, kalem, dan bukan gaya permainan yang akan mengundang decak kagum penonton. Tapi, Michael Carrick sesungguhnya adalah salah satu gelandang terpenting bagi Manchester United dan timnas Inggris.

Dalam pertandingan ulangan Piala FA antara West Ham United melawan Manchester United beberapa waktu lalu, pelangi muncul di dekat Boleyn Ground, markas West Ham. Dan itu adalah sebuah pertanda baik yang sayangnya bukan untuk tim atau pemain-pemain tuan rumah.

Belum genap dua menit pertandingan berjalan, West Ham melakukan serangan cepat melalui sisi kiri pertahanan United. Setelah melakukan intersep, Michail Antonio, full-back kanan West Ham United, memberikan umpan kepada Enner Valencia. Setelah itu, Antonio bergerak secepat mungkin ke arah kotak penalti United dan hanya Michael Carrick yang menyadari pergerakan berbahaya tersebut.

Carrick sudah berada di depan Antonio saat Valencia memberikan crossing mendatar ke arah full-back kanan berkebangsaan Inggris tersebut. Secepat mungkin, Carrick kemudian menghalau bola keluar dari lapangan.

Beberapa menit kemudian, tepatnya pada menit kesepuluh, Lanzini melakukan pergerakan diagonal di depan kotak penalti United, sebuah pergerakan yang sulit sekali diatasi dalam sepakbola – berapa gol yang sudah diciptakan oleh Cristiano Ronaldo dan Arjen Robben yang diawali dengan pergerakan seperti itu?

Sayangnya, Lanzini bukan Ronaldo atau Robben, dan tidak seperti pemain-pemain belakang United yang suka mengira-ngira, Carrick yang tertinggal beberapa langkah di belakang Lanzini tahu betul apa yang akan segera terjadi.

“Orang-orang tidak akan menyadari pekerjaan yang dilakukan Carrick sampai dia benar-benar pergi.”  (Thierry Henry, mantan bintang Arsenal)

Ketika Lanzini mencuri perhatian pemain-pemain belakang United, Carrick menyadari bahwa Mark Noble melakukan pergerakan yang berlawanan arah dengan Lanzini, menciptakan sebuah ruang di mana Lanzini dapat mengumpan ke arahnya sekaligus mengecoh pemain-pemain bertahan United. Dan saat Lanzini benar-benar melakukannya, Carrick dapat memotong umpan tersebut dengan jitu. Carrick kemudian mengoper bola kepada De Gea yang sesegara mungkin membuang bola jauh ke depan.

Dua kejadian pada menit-menit awal tersebut dapat mewakili jalannya pertandingan secara keseluruhan: West Ham putus asa dalam membongkar rapatnya pertahanan United, sementara United mampu tampil mengejutkan dengan memanfaatkan kesalahan-kesalahan kecil yang dibuat oleh anak-anak asuhan Slaven Bilic tersebut. Pada akhirnya, United berhasil mengalahkan West Ham 1-2, dan menjaga asa mereka untuk bisa meraih satu piala pada akhir musim ini.

Secara sadar, Carrick sering melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana seperti itu. Dia memang pandai mengalkulasi ruang yang abstark. Dengan pendekatan seperti itu, tak heran jika penampilannya jarang sekali mendapatkan aplaus panjang dari penggemar United.

Namun, Carrick memilih terus bermain dengan cara yang sama sepanjang waktu, cara yang menjadi kunci sukses perjalanan panjangnya di dalam sepakbola modern.

Pada suatu waktu, Thierry Henry, mantan bintang Arsenal, pernah mengatakan, “Orang-orang tidak akan menyadari pekerjaan yang dilakukan Carrick sampai dia benar-benar pergi.”

Ketika Sir Alex Ferguson Menemukan “Google”

Pada tahun 90-an, saat internet mulai mewabah di seluruh dunia, “search engine” adalah sebuah mahakarya. Yahoo, Bing, MSN, dan perusahaan-perusahaan sejenis lainnya berlomba-lomba menciptakan mesin pencari yang bisa memberikan hasil seakurat dan secepat mungkin.

Gilberto Silva (Arsenal)

Claude Makelele (Chelsea)

Google melihat peluang yang sama, tetapi mereka memilih untuk menyempurnakan karya mereka terlebih dahulu sebelum benar-benar terjun ke pasar. Pada akhirnya, Google berhasil memonopoli pasar tersebut dengan bantuan algoritma rumit pada mesin pencari mereka.

Dan pada saat perusahaan-perusahaan lainnya mencari cara untuk menyaingi Google, perusahaan asal Amerika tersebut sudah sudah jauh berada di depan.

Ketika Arsenal dengan Gilberto Silva-nya dan Chelsea dengan Claude Makelele-nya mendominasi Premier League Inggris pada awal tahun 2000-an – tahun-tahun di mana sepakbola Inggris mulai sadar akan peran penting seorang gelandang bertahan – Sir Alex Ferguson tak buru-buru mengganti Roy Keane, gelandang bertahan United, yang sudah menua.

Roy Keane

Keane baru benar-benar dibuang Ferguson pada tahun 2005, di mana dia mulai banyak bicara daripada menunjukkan kemampuannya di atas lapangan. Menariknya, setelah kepergian Keane, alih-alih membeli gelandang bertahan baru, Ferguson justru mencoba Alan Smith untuk mengisi pos tersebut dan membeli dua pemain bertahan baru, Nemanja Vidic dan Patrice Evra.

Pada akhir musim tersebut, United memang mampu finis di peringkat kedua, tapi mereka sudah tiga tahun tidak merasakan gelar juara Liga Inggris. Penggemar United mulai gelisah. Di dalam benak mereka kemudian muncul sebuah pertanyaan: Apakah Ferguson mulai kehilangan akal sehatnya?

“Saya pikir, Michael Carrick adalah geladang terbaik di sepak bola Inggris. Dia merupakan pemain Inggris terbaik dalam permainan ini.” — Sir Alex Ferguson (2014)

Baru pada musim panas tahun 2006, Ferguson mendatangkan gelandang bertahan baru. Sayangnya, dia bukan seorang pemain dengan nama besar yang diinginkan oleh penggemar.

Mahar sebesar 18 juta pounds dianggap terlalu mahal untuk seorang gelandang bertahan kurus. Pemain itu bernama Michael Carrick, dan dia merupakan satu-satunya pembelian yang dilakukan United pada musim panas itu.

Carrick memang tak semilitan Roy Keane, bahkan karakter permainannya sangat kontras dengan pemain asal Irlandia tersebut. Ototnya juga kalah kekar daripada otot Makalele atau Gilberto Silva.

Namun, apa yang dia tawarkan di atas lapangan sesungguhnya melebihi kemampuan ketiga pemain tersebut – hal yang membuat Ferguson berani membayar mahal kepada Tottenham Hotspur, klub Carrick sebelumnya.

Seperti Makalele, Carrick adalah pemain yang lebih suka bergerak secara vertikal. Pergerakan itu pun dilakukan tak jauh dari daerah operasinya. Meski demikian, jangkauan umpan Carrick lebih luas daripada Makalele.

Carrick tak hanya cermat dalam melakukan umpan mendatar. Umpan-umpan lambung Carrick juga tergolong akurat. Selain itu, kaki kiri dan kaki kanan Carrick berfungsi sama baiknya – sebuah kemampuan yang langka di kalangan pesepakbola Inggris. Hal ini masih ditambah kemampuannya dalam berpikir cepat, layaknya Google dengan algoritma rumitnya.

Dalam bertahan, berbeda dengan Keane atau Gilberto Siva, Carrick merupakan seorang pemain yang alergi dengan kontak fisik. Carrick lebih senang melakukan intersep daripada tekel.

Intersep sejatinya adalah kemampuan yang sulit untuk dilakukan. Intersep membutuhkan ketenangan dan kecerdasaan. Tanpa pengambilan posisi yang bagus dan kemampuan dalam membaca permainan yang mumpuni, intersep nyaris mustahil untuk dilakukan.

Singkatnya, pemain-pemain yang mahir dalam melakukan intersep harus mampu memperkirakan masa depan – meski hanya beberapa detik ke depan. Dasar-dasar inilah yang sebenarnya menjadi alasan kenapa pemain-pemain Inggris kebanyakan lebih senang melakukan tekel daripada intersep.

Dengan pendekatan seperti itu, hampir setiap musim rata-rata percobaan umpan, tingkat akurasi umpan, dan jumlah intersep yang dilakukan Carrick lebih baik daripada gelandang-gelandang asal Inggris lainnya.

Pasca kehadiran Carrick, United langsung meraih tiga gelar Premier League secara berturut-turut (2006-2007, 2007-2008, dan 2008-2009). Mereka juga berhasil meraih gelar Liga Champions pada tahun 2008. Sementara Arsenal dan Chelsea terus-menerus mencari pengganti yang pas untuk Makalele dan Gilberto Silva, Carrick membuat United untung besar.

“Saya pikir, Michael Carrick adalah geladang terbaik di sepak bola Inggris. Dia merupakan pemain Inggris terbaik dalam permainan ini,” begitu kata Sir Alex Ferguson pada tahun 2014 lalu.

Carrick Adalah Orang Asing

Dalam sebuah wawancaranya dengan Diego Costa, Andrew Murray, wartawan FourFourTwo, pernah mengatakan bahwa Diego Costa ternyata mempunyai pemahaman yang luar biasa tentang sepakbola – terutama dalam masalah teknis.

Bahkan, dalam pernyataannya tersebut, dia juga mengatakan bahwa pemahaman yang dimiliki Costa lebih baik daripada pemain-pemain asal Inggris mana pun, kecuali Michael Carrick.

Bukan sebuah rahasia umum bahwa Carrick adalah “pemain yang tak dianggap” oleh publik Inggris. Anak-anak kecil di Inggris akan menganggap para orang tua mereka menceritakan dongeng sebelum tidur yang buruk ketika menjadikan Carrick sebagai tokoh utama.

Saat nyanyian “It’s Carrick you know, hard to believe it’s not Scholes” berkumandang, tak sedikit publik Inggris yang bertanya: mengapa lagu tersebut harus diciptakan? Padahal, ketika orang Inggris menertawakan Carrick, timnas Inggris juga sedang ditertawakan oleh penggemar sepak bola seantero dunia.

Saat Italia menjuarai Piala Dunia 2006, mereka mempunyai Andrea Pirlo di pos gelandang bertahan yang berperan sebagai seorang regista, komposer sepak bola yang berada di depan garis pertahanan.

Andrea Pirlo (Italia)

Xabi Alonso (Spanyol)

Bastian Schweinsteiger (Jerman)

Tiga gelar gelar bergengsi yang diraih Spanyol secara berturut-turut, Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan Piala Eropa 2012, tak akan mampu mereka raih tanpa bantuan Marcos Senna, Sergio Busquets, dan Xabi Alonso — dua nama terakhir merupakan dua gelandang bertahan terbaik di dunia yang sudah meraih hampir semua trofi bergengsi yang disediakan oleh sepakbola modern.

Dan Jerman meraih Piala Dunia 2014 karena peran apik Bastian Schweinsteiger dari posisi gelandang bertahan – jika FIFA tidak merasa iba terhadap Lionel Messi, pemain paling paripurna di jagat sepak bola, Schweinsteiger mungkin akan menjadi pemain terbaik turnamen empat tahunan tersebut.

Michael Carrick and wife Lisa

Sementara Carrick lebih sering berlibur saat turnamen-turnamen tersebut berlangsung, Inggris hanya menjadi pelengkap. Bahkan, mereka hanya bisa menyaksikan dari rumah saat Piala Eropa 2008 digelar.

Pasca pertandingan terakhir Inggris pada kualiafikasi Piala Dunia 2014, media-media Inggris seperti The Guardian, Independent, BBC, Daily Mail, dan The Telegraph, ramai-ramai memuji timnas Inggris karena berhasil lolos ke Piala Dunia 2014 setelah mengalahkan Polandia, 2-0, di Wembley.

Pujian-pujian tersebut kebanyakan diarahkan kepada Carrick yang tampil mengesankan pada pertandingan tersebut. Mereka menganggap Carrick akan menjadi solusi pas di lini tengah Inggris pada Piala Dunia 2014.

“Di sepak bola Inggris kadang sulit bagi orang-orang untung menghargai seorang pemain yang mampu membuat timnya tampil secara kolektif. Michael Carrick adalah contohnya. Dia membuat pemain-pemain di sekitarnya bisa bermain dengan baik.” — Xabi Alonso, gelandang Spanyol.

Tapi, entah karena oplah mereka menurun karena pemberitaan tentang Carrick tersebut, media-media Inggris memilih bungkam ketika Carrick tidak masuk di dalam tim yang berangkat ke Brasil. Dan kita semua tahu bagaimana cerita akhir dari kisah timnas Inggris di Piala Dunia tersebut.

Orang-orang Inggris lebih suka membahas antusiasme, hasrat, gairah, dan kecepatan daripada kecerdasan saat berbicara tentang sepakbola. Mereka suka pemain-pemain yang meluap-luap di atas lapangan, berlari dari satu gawang ke gawang lainnya, melakukan tekel tanpa kompromi, dan tak takut berdarah-darah karena duel udara yang berisiko.

Kemampuan-kemampuan tersebut tidak dimiliki Carrick. Carrick hanya meluapkan gairahnya ketika timnya mencetak gol kemenangan. Biasanya dia akan berteriak sekuat tenaga, lebih lantang daripada pemain-pemain lainnya, saat hal tersebut terjadi. Dalam sebuah pertandingan, Carrick lebih memilih mengumpulkan gairahnya untuk melakukan umpan-umpan matang, interpsi-intersepsi jitu, dan membuat timnya tampil lebih baik.

“Di sepak bola Inggris kadang sulit bagi orang-orang untung menghargai seorang pemain yang mampu membuat timnya tampil secara kolektif. Michael Carrick adalah contohnya. Dia membuat pemain-pemain di sekitarnya bisa bermain dengan baik,” kata Xabi Alonso, salah seorang gelandang bertahan terbaik di dunia.

Menurun Bersama Louis van Gaal

Saat didaulat menjadi pelatih United, Louis van Gaal diharapkan mampu membuat sebuah ramuan rahasia yang mematikan. Dia kemudian benar-benar melakukannya, tapi ramuan tersebut justru meracuni timnya sendiri.

Tempo permainan yang cepat adalah ciri khas dari Premier League. Dalam waktu hanya beberapa detik, bola bisa berpindah tempat dari kotak penalti satu ke kotak penalti lawannya. Uniknya, filosofi permainan Louis van Gaal justru membuat United tampil lambat, selambat mobil kehabisan bensin yang sedang didorong oleh penumpangnya.

Saat mempunyai kesempatan besar untuk melakukan serangan berbahaya, pemain-pemain United justru mengeksekusinya dengan umpan-umpan tak tentu tujuan. Dan ketika lawan melakukan serangan balik, mereka akan kesulitan untuk menghadapinya.

Selain itu, ada hal aneh lainnya dari permainan United saat ini. Salah satu kunci sukses Leicester dan Tottenham Hotspur pada musim ini adalah metode yang mereka terapakan saat kehilangan bola.

Leicester bertahan dengan zonal-marking yang sulit ditembus, sedangkan Tottenham bertahan dengan pressing tingginya. Dan kedua tim tersebut menyerang secara bebas berdasarkan imajinasi kreatif para penyerangnya. United adalah kebalikannya.

Dalam bertahan, United tak mempunyai metode tertentu. Mereka tidak melakukan pressing, tidak juga melakukan zonal-marking, atau metode-metode yang bagus untuk bertahan lainnya. Memang mereka hanya kebobolan sedikit gol, tapi hal ini terjadi lebih karena penampilan apik Daley Blind dan Chris Smalling di jantung pertahanan, dan David De Gea di bawah mistar.

Daley Blind dan Chris Smalling

David De Gea

Saat menyerang, terutama saat berada di wilayah pertahanan lawan attacking-third, pemain-pemain kreatif United tampak kaku, seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat di dalam kepalanya. Mereka seperti sekumpulan pasukan perang yang takut mengijak ranjau ketika berjalan berdasarkan intuisi kreatif mereka.

Van Gaal memang terbiasa memberikan instruksi mendetail ketika timnya sedang menyerang – kecuali kepada Thomas Mueller – dan itu sepertinya tidak bisa diterapkan dengan baik oleh pemain-pemain Manchester United.

Dengan pedekatan seperti itu, menyoal menciptakan peluang, untuk sementara United berada di peringkat ke-17, dan dalam urusan mencetak gol, United sementara berada di peringkat ke-11. Perlu diingat, David Moyes tak membuat United semembosankan itu ketika dia menjadi bulan-bulanan di Old Trafford beberapa tahun lalu.

Pada awal musim lalu, penampilan buruk United masih mampu diselamatkan oleh Michael Carrick. Sekembalinya dari cedera panjang, performa United mulai membaik, dan mereka lebih banyak menang ketika Carrick berada di atas lapangan.

Sayangnya, hal tersebut tak terulang pada musim ini. Performa Carrick ikut loyo seperti United. Carrick tidak lagi mampu menampilkan permainan menawan seperti ketika United menjungkalkan Manchester City 4-2 di Old Trafford pada bulan April setahun yang lalu.

Umpan-umpan Carrick tidak sejitu musim-musim sebelumnya. Keberaniannya dalam melakukan umpan-umpan ke depan secara mengejutkan sudah jarang sekali terlihat.

Dalam melindungi pertahanan, Carrick juga tidak lagi tangguh. Beberapa kali dia dilewati lawan dengan mudah dan melakukan blunder karena keraguannya – salah satunya terjadi saat melawan Liverpool di Anfield.

Menurut whoscored.com, sejauh ini Carrick hanya melakukan 54,2 percobaan umpan setiap pertandingan dengan tingkat akurasi sebesar 85,8 persen. Rata-rata intersep-nya per pertandingan pun hanya 1,7. Statistik Carrick musim ini merupakan yang terburuk selama dia berseragam United.

Faktor cedera dan usia sepertinya menjadi sumber penurunan yang dialami Carrick. Bagaimanapun, Premier League adalah sebuah liga yang berjalan cepat. Ketika badan mulai ringkih, berpikir secara cepat saja tak cukup untuk menaklukkannya.

***

Musim ini, Carrick berpeluang besar memenangkan Piala FA, satu-satunya gelar bergengsi yang belum dia raih saat berseragam Setan Merah. Penampilan bagusnya kala melawan West Ham di Boleyn Ground menunjukkan bahwa dia benar-benar menginginkan gelar tersebut.

Carrick sepertinya sadar bahwa inilah saat terbaik baginya untuk mengangkat piala yang paling dihormati publik sepakbola Inggris tersebut di stadion Wembley.

J.K. Rowling, novelis ternama asal Inggris pernah mengatakan, “Anak-anak muda tidak akan tahu bagaimana orang tua berpikir dan merasakan. Tapi, orang tua akan merasa bersalah jika mereka lupa bagaimana rasanya menjadi muda.”

Tidak hanya mengingat masa mudanya, sebagai seorang pemain yang sudah berusia 34 tahun, Carrick akan tetap berusaha menjadi muda sepanjang sisa kariernya. Entah itu tetap di Manchester atau di kota-kota lainnya. (FourFourTwo)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: