FOKUS: Mourinho Kembalikan Keceriaan yang Hilang di Era Van Gaal

000 copy copy copy copy

“I am determined to be cheerful and happy in whatever situation I may find myself. For I have learned that the greater part of our misery or unhappiness is determined not by our circumstance but by our disposition.”

Quote Martha Washington, istri Presiden Pertama Amerika Serikat George Washington, di atas bisa sedikit menggambarkan situasi skuad Manchester United saat ini.

Kedatangan Jose Mourinho di Old Trafford memberikan banyak perubahan dan dampak yang langsung terasa. Baik teknis maupun nonteknis. Salah satu dampak nonteknis adalah keceriaan yang kembali dirasakan para pemain Manchester United, yang jarang terlihat di era Louis van Gaal.

 

Dalam sesi latihan Tour 2016 klub di China untuk menghadapi laga melawan Borussia Dortmund pada Jumat (22/7), para pemain terlihat begitu menikmati. Mereka berlatih santai, tapi serius. Bahkan, mereka sering bercanda satu sama lain. Terutama dalam sesi “gendong-gendongan”.

“Ini sangat bagus,” kata Micheal Carrick kepada MUTV pada 16 Juli. “Kami datang Rabu lalu dan telah melakukan lebih dari seminggu dengan dia sekarang dan itu sudah menyenangkan. Sesi sangat baik, itu tidak masalah dan belum sesulit yang Anda mungkin pikirkan!”

“Itu sangat sangat banyak (berlatih) sepak bola dan menyenangkan pada saat yang tepat. Saya pikir semua orang menikmatinya. Ketika Anda mendapatkan manajer baru, pra-musim selalu sedikit berbeda karena kepribadian baru dan cara-cara baru. Tapi, Anda mendekati musim dengan yang lain dan Anda harus mempersiapkan diri untuk siap bertempur.”

 

Para pemain The Red Devils sekarang lebih memiliki perasaan segan, bukannya takut, kepada manajer mereka. “If you want to be happy, be,” kata Leo Tolstoy. Hal itu dipercaya bisa membuat pemain bebas dalam berekspresi dan meningkatkan kemampuan. Tekanan psikologis hanya akan membuat siapa pun – meski tidak semua – menjadi terhambat untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

“Saya suka berpikir saya selalu termotivasi sebagai pemain. Tapi, saya akan berbohong jika saya mengatakan saya tidak sedikit lebih termotivasi ketika manajer baru datang. Saya yakin semua pemain akan senang bekerja di bawah Jose dan juga bersemangat untuk mengesankan,” kata kapten Wayne Rooney.

“Saya di klub yang sangat besar yang memberi saya banyak perhatian dari hari ke hari. Saya sangat berterima kasih kepada United. Mereka adalah klub yang sangat besar dan saya sangat senang di sana,” kiper David De Gea mengungkapkan isi hatinya suatu ketika, menyambut kedatangan Mourinho.

Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony,” seru Mahatma Gandhi bertahun-tahun yang lalu. Dan, kini skuad United masih terlihat harmanis – mengingat Mourinho baru mengambil alih United kurang dari dua bulan.

Memang ada sedikit isu tentang keretakan hubungannya dengan Juan Mata. Namun, itu cerita masa lalu saat keduanya bekerja sama di Chelsea.

“Jika pemain mewah adalah pemain yang mencetak gol dan assist dan memiliki statistik yang baik, maka saya senang menjadi pemain mewah,” kata Mata pada Oktober 2015, saat isu Mourinho akan menuju Old Trafford mengembang.

Kini, Mata dan Mourinho telah “berdamai”. Gelandang Spanyol itu juga diberi kesempatan untuk membuktikan diri dan harus mau menerima “aturan” jika ingin bertahan di United; yakni tidak selalu dimainkan.

 

Mata tentu berpegang pada apa yang diucapkan Gautama Buddha, “No one saves us but ourselves. No one can and no one may. We ourselves must walk the path.”

Mourinho juga mengatakan senang berlatih dengan anak-anak asuh barunya.

“Setelah 10 sesi pelatihan, saya dapat mengatakan, saya senang bekerja dengan orang-orang ini,” kata manajer Portugis tersebut.

Age of Enlightenment

Age of Enlightenment atau Zaman Pencerahan adalah suatu masa di sekitar abad ke-18 di Eropa yang diketahui memiliki semangat revisi atas kepercayaan-kepercayaan tradisional, memisahkan pengaruh-pengaruh keagamaan dari pemerintahan.

Dikaitkan dengan United era Mourinho, sekarang adalah zaman revisi dari kekakuan dan “ketakutan” di bawah rezim Van Gaal antara tahun 2014–2016. Rezim itu bisa disebut sebagai Teror Buku Catatan (istilah ini dibuat sendiri oleh penulis) yang begitu kejam.

 

Hal itu dibenarkan oleh para pemain United. Merasa tertekan dan takut membuat kesalahan selama latihan. Sebab, Van Gaal akan memasukkan nama siapa pun yang melakukan kesalahan ke dalam buku catatannya…

Van Gaal akan menganalisis setiap kesalahan pemain di depan rekan-rekannya menggunakan tayangan ulang. Dia seperti orang tua yang sedang menghakimi anaknya!

Penyerang United dilarang bergerak bebas, tapi hanya di sepertiga lapangan. Jika pemain membantah, sebuah “sanksi” siap menimpa mereka. Contoh paling kentara adalah Angel Di Maria yang ditendang ke Paris Saint-Germain.

 

Timbal balik negatif terus-menerus oleh Van Gaal membuat suasana tidak nyaman. Kapten Wayne Rooney dan Michael Carrick pun mewakili para pemain bertemu dengan Van Gaal pada bulan September untuk menyampaikan keluhan rekan-rekannya.

“Buku catatan selalu bersama saya untuk mencatat hal yang menarik,” kata Van Gaal. “Bagi saya, ini merupakan bantuan yang sangat berharga sehingga tidak penting apa yang orang lain pikirkan.”

“Pertama, saya selalu menulis kesalahan kolektif yang bertentangan dengan taktik yang direncanakan. Itulah aspek yang paling penting. Berikutnya, saya selalu mencatat kesalahan individu, tentu saja. Dengan cara ini, saya memiliki urutan logis tentang aspek yang ingin saya berbicara dengan para pemain selama jeda.”

“Itu sebabnya saya menemukan daftar yang sangat berguna – memperkecil kemungkinan sesuatu yang penting terabaikan. Selain itu, saya menggunakan catatan untuk berbicara dengan tim setelah pertandingan, tentu saja, untuk menyusun latihan berikutnya.”

“Jika Anda tidak menaruh pena di atas kertas, Anda akan melupakan sesuatu.”

Van Gaal mungkin lupa – karena mengatakan ‘tidak tahu’ mungkin terlalu kejam – pada kata-kata Edwin Land, penemu kamera polaroit yang terkenal itu: “An essential aspect of creativity is not being afraid to fail.”

Ketakutan akan kesalahan membuat permainan Setan Merah minim kreativitas dan sangat kaku. Pertandingan United pun membosankan. Bahkan, penonton di stadion bisa sampai tertidur pulas; tidur lebih menarik daripada permainan. Kinerja pemain pun di bawah rata-rata.

Imbas dari masalah-masalah itu, Setan Merah hanya finis kelima di Premier League pada musim 2015-2016 dan gagal lolos ke Liga Champions musim 2016-2017. Salah satu tugas Mourinho adalah membawa kembali The Red Devils berpartisipasi di kompetisi teratas di Benua Biru tersebut.

“Kami harus memastikan di mana seharusnya klub ini aberada… yakni Liga Champions,” ujar manajer berusia 53 tahun tersebut.

“Saya tahu apa yang para penggemar harapkan dari saya dan saya pikir tantangan ini jelas tidak membuat saya gugup karena sejarah saya dalam sepuluh tahun terakhir atau lebih selalu memenuhi harapan dari klub-klub besar.”

Zaman Kegelapan di era Van Gaal berakhir pada 23 Mei 2016. Seperti “Habis Gelap Terbitlah Terang”, Mourinho datang membawa kecerahan, kebahagiaan, dan tawa. Setidaknya sampai detik ini. (agus budiawan, admin)

Advertisements
2 comments
  1. afif said:

    Artikelnya keren gan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: